MAI MONI GO NUA...MARI LIHAT KAMPUNG...MAGHILEWA!


Foto ini adalah rumah adatku...Sao Pu'u (rumah pokok) woe turu kisa.

Kampung Maghilewa terletak di lereng gunung Inerie, desa Inerie, Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada. Untuk bisa sampai ke kampung Maghilewa, bisa ditempuh dengan tiga alternatif.

Pertama, bagi yang datang dari Labuanbajo, Ruteng atau Mborong dengan kendaraan umum, turun di pertigaan Aimere-Bajawa-Ruto (kampung Ende). Anda memilih untuk menggunakan kendaraan umum (kalau sudah ada bemo), Ojek atau bagi yang suka trekking bisa jalan kaki. Bagi yang senang bertualang, pasti memilih jalan kaki sejauh 8 kilometer. Kampung-kampung yang akan dilalui adalah Lekogoko, Waewaru, Malanegulengi, Kila, Waiwae, Paupaga, Pomasule dan akhirnya tiba di Malapedho. Jika perjalanan diteruskan maka akan melalui kampung Waengongo, Pali, Ruto, Kelitei, Nunupada dan berakhir di Waebela yang merupakan perbatasan wilayah antara kecamatan Aimere dan Kecamatan Jerebuu, hasil pemekaran dari kecamatan Aimere beberapa tahun lalu. Ruas jalan menyusuri pesisir pantai dengan laut biru serta bibir pantai yang eksotik membuat perjalanan anda tak membosankan.

Dari Malapedho, anda dapat ke Maghilewa dengan kendaraan roda dua atau roda empat atau jalan kaki sejauh emat kilometer dengan menyusuri ruas jalan yang topografinya penuh jurang dan menanjak. Anda akan melalui ruas jalan yang disebut Watu Selie dan Ngeke dimana di kiri kanan jalan terdapat jurang sedalam 100 meter. Tetapi dari ruas jalan ini anda bisa menikmati matahari terbenam di ufuk barat yang memancarkan panorama yang luar biasa indahnya.
Malapedho adalah sebuah kampung yang sudah mengikuti perkembangan jaman dengan penataan tata ruang serta bangunan-bangunan modern atau bangunan semi permanen dan permanen. Kampung ini terletak di pinggir pantai Wae Sugi dan merupakan hasil pemekaran dari kampung Maghilewa yang ada di lereng gnung Inerie.Di Malapedho terdapat sebuah sekolah dasar dan sebuah SMP Negeri yang sebelumnya adalah SMP pancakarsa.

Perjalanan anda ke kampng Maghilewa akan melewati areal kebun dengan pohon kelapa serta pohon cengkeh yang senantiasa menghijau sepanjang tahun. Juga terdapat tanaman pisang Kepok serta tanaman lainnya seperti vanili, jambu mente dan lain-lain. Sebelum sampai di Maghilewa anda akan menemukan sebuah kampung tradisional yakni kampung Jere. Baik penghuni kampung Maghilewa maupun kampung Jere mempunyai ikatan adat yang sama.

Kedua, untuk bisa sampai ke Maghilewa, bagi yang datang dari Maumere atau Ende, harus turun di Bajawa kemudian dengan kendaaan umum menuju Aimere, turun di pertigaan Aimere-Bajawa-Ruto (kampung Ende) selanjutnya mengikuti jalur perjalanan seperti pada alternatif pertama.

Ketiga, bagi yang senang bertualang, bisa menempuh dengan berjalan kaki dari Bajawa menuju Langa, melewati kampung Bela, Waerongo dan menyusuri lereng gunung Inerie bagi barat dan bagian selatan sampai tiba di kampung Watu. Kampung Watu adalah salah satu kampung tradisional yang hanya dua kilometer dari aghilewa, namun masuk wilayah desa Sebowuli. Namun secara sosiologis memiliki katan adat yang sama dengan masyarakat Maghilewa. Jika alternatif ini yang dipilih maka anda akan menyaksikan panorama yang luar biasa indah. Panorama gunung Inerie, panorama Waerongo dan akhirnya panorama hamparan laut Sawu yang indah.

Di Maghilewa, anda dapat menyaksikan rumah adat yang masih asli, dibangun sesuai dengan aslinya. Rumah adat bagi masyarakat disebut Sao Meze (rumah besar). Ada beberapa jenis rumah adat yakni Sao Saka Pu'u, Sa'o Saka Lobo dan Sao Da'i atau Sao Pibe. Di Maghilewa berdiam suku-suku Thuru Woe Ruma, Kutu, Kemo, Poso dan suku Boro. Masing-masing suku mempunyai rumah adat, ngadhu, bhaga dan ture.

Setiap tahun pada 27 Desember diadakan dheke reba, sebuah seremoni adat yang hampir dlakukan oleh masyarakat etnis Bajawa. Namun budaya reba konon mulai tergerus modernisasi dan terancam punah. Karena itu diperlukan komitmen dari pemerintah dalam hal ini Dinas Pariwisata atau Dinas Kebudayaan untuk melestarikan kearifan lokal yang ada di bajawa. Kalau tidak, anak cucu kita hanya akan mendengar ceritera, tetapi tidak tahu lagi melakukannya. gustithuru

Komentar

  1. Salam Kenal Agusthuru,, Kopdit Sinar Harapan Malapedho Makin Jaya Yah,, by Edison Pomasule/Nua Watu,,

    BalasHapus
  2. Salam juga ya. Kau ana go sei,ema kau sei, ine kau sei? loza ota de? Kau pu'u sa'o apa?

    BalasHapus
  3. salam kenal om...
    saya turunan kesekian dari Sa'o Ne Wua...
    saya cucu dari opa Petrus Geli(alm)dan oma Dominika Rodju (kakak dari oma Juli Meo n oma Romana Waja, serta adik dari Oma Esi dan Opa Bar Wego)

    BalasHapus
  4. Salam kenal kak..

    Ijin bertanya,kalo jumlah rumah adat di Maghilewa ada berapa ya?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEJARAH KOPDIT SINAR HARAPAN

KSP MULIA SEJAHTERA TABANAN