Jumat, 02 Oktober 2015

Drs. Marselinus


DRS. MARSELINUS I NYOMAN MARSINA

Terus Gemakan Koperasi



Tak ada hari tanpa menggemakan koperasi, inilah yang dilakukan oleh aktivis Credit Union  Drs. Marselinus I Nyoman Marsina. Pria kelahiran  Tangeb 2 Juni 1964 dari pasangan  I Ketut  Anglu dan Ni Wayan  Tampek  ini berpendapat  masyarakat bukannya tidak mau masuk menjadi anggota koperasi tetapi mereka belum tahu apa itu koperasi.”Kalau masyarakat belum tahu, harus ada yang memberitahu. Makanya  kita harus gemakan terus koperasi kepada seluruh lapisan masyarakat”, ujar suami dari  Ni Ketut Alit Agustini,S.Pd ini.

Ayah dari dua putri dan satu putra ini mengaku bangga bisa aktif di koperasi  sekaligus tetap menjalankan tugas utamanya sebagai pendidik. Dua putrinya  Yosefin Dian Alvina,Amd.Keb dan Marselina Nita Alvina,Amd.Keb juga  terdaftar sebagai anggota koperasi  dan sehari-hari bergelut dengan pelayanan  kesehatan kepada masyarakat. Sedangkan satu-satunya putra Dionisius Komang Tri Alvina  saat ini tercatat  sebagai siswa SMAK St. Thomas Aquinas Tangeb. “Antara tugas  sebagau guru dan sebagai aktivis koperasi, sama mulia karena melayani sesama. Dalam konteks ini  saya siap menjalankannya dengan sukacita”, ujarnya  saat ditemui di SMAK St. Thomas Aquinas  Tangeb beberapa waktu lalu.

Alumni SDN Tangeb, SMPK Swastiastu Tangeb (kini SMPK St. Thomas Aquinas Tuka)  dan SMAN 1 Mengwi ini mengatakan koperasi kredit di bawah  payung Puskopdit Bali Artha Guna  masih berpeluang untuk tumbuh dan berkembang di masa mendatang. Hal ini dengan melihat trend cara pandang masyarakat  yang akhir-akhir ini mulai makin memahami apa itu koperasi. Ia memberi contoh  di Kopdit Sumber Kasih Tangeb  ada kontraktor yang berani menyimpan  uang di Sisuka  dalam jumlah besar. Ini bukti semakin menguatnya kepercayaan  masyarakat  pada koperasi.

Karena itu, menurut alumni FKIP Unud Singaraja (kini Undiksha) ini  aktivis gerakan koperasi kredit Indonesia  harus terus menggemakan koperasi supaya banyak orang  dapat mengenalnya. Pemberdayaan  sumber daya manusia di manajemen terutama kolektor yang  dalam kesehariannya ada di lapangan  harus diberdayakan  agar mereka berperan  di satu sisi sebagai kolektor dan di sisi lain sebagai marketing. Diakui, dirinya sangat yakin bahwa  masyarakat  akan memilih koperasi sebagai alternatif lembaga keuangannya bila mereka  paham terhadap keunggulan-keunggulan koperasi.”Nah, keunggulan itulah yang harus digemakan terus, diperkenalkan  kepada masyarakat”, ujarnya.

Sosok yang  lebih akrab disapa Pak Marsina  ini  memang  dikenal luas oleh GKKI di Bali yang aktif  di  gerakan koperasi. Saat ini ia tercatat sebagai anggota Kopdit Insan Mandiri. Sebagai  karyawan Yayasan Insan Mandiri  sudah pasti masuk Kopdit Insan Mandiri, bukan hanya dirinya  tetapi istri dan ketiga anaknya. I Nyoman Marsina   sekeluarga juga terdaftar sebagai anggota KSP Wisuda Guna Raharja dan Kopdit  Sumber Kasih Tangeb. Selain itu bergabung di CU SMAK St. Thomas dan CU SMPK St. Thomas Aquinas.
Ditanya apakah pernah aktif dalam kepengurusan koperasi pria yang mengaku  sedang belajar untuk menulis ini  mengatakan pernah menjadi wakil ketua pada Kopdit Sumber Kasih  Tangeb pada masa awal tahun 2004  namun mengundurkan diri  karena kesibukan. Harap maklum  sejak tahun 1992 ia mengajar  di dua sekolah. Baru lima tahun terakhir ini  ia aktif lagi dalam kepengurusan  di Kopdit Sumber Kasih Tangeb  sebagai pengawas dan kini sebagai ketua pengurus.

Dari aspek profesinya sebagai guru, tahun 1989 sampai 1991 mengampu mata pelajaran biologi di SMAK Kusuma Cakranegara  Mataram, tahun 1992-1995  mengampu mata pelajaran biologi di SMPK St. Yoseph dan SMAK St. Thomas Aquinas Tangeb. Tahun 1995-1997  mengampu mata pelajaran biologi di SMPK St. Thomas Aquinas dan SMAK St. Thomas Aquinas. Dan sejak ntahun 1997  total mengampu mata pelajaran biologi di SMAK St. Thomas Aquinas Tangeb.Di akhir obrolan, ia titip pesan untuk pembaca Mentik, manfaatkan Media Sosial untuk promosi keunggulan kopertasi. Selamat mengabdi Pak Marsina. Koperasi akan mencatatkan nama dalam sejarahnya.***Gus

kopdit sinar harapan



Kopdit Sinar Harapan  Milik Anggota



Kopdit Sinar Harapan malapedho didirikan tanggal 1 Januari 1982  yang dimotori oleh seorang guru honor SMP Pancakarsa Malapedho Clemens Kolo. Keanggotaan pertama kali 25 orang dengan modal awal Rp 234.000. Guru Clemens Kolo pun didaulat  menjadi Ketu Pengurus  untuk pertama kalinya.

Tahun 1984 sampai 1986  koperasi yang waktu itu masih dikenal dengan sebutan CU Sinar Harapan  mati suri. Apa penyebab, tentu hanya  mereka yang saat itu  menjadi pengurus dan anggota yang tahu. Tetapi sesuatu yang  dibuat dengan tujuan baik selalu melahirkan tokoh penyelamat. Tahun 1986  kondisi CU Sinar Harapan menggugah hati mantan kepala desa Inerie Rofinus Raga. Mantan kepala desa yang juga pernah menjadi guru di SDK Inerie tahun 1965-1966  ini  bersama beberapa orang  mengikuti pendidikan koperasi  yang  diselenggarakan oleh BK3D NTT Bagian Barat yang kini menjelma menjadi Puskopdit Flores Mandiri. Berbekal pendidikan koperasi ini Rofinus Raga,dkk  mulai membenahi CU Sinar Harapan Malapedho.

Tetesan keringat, bahkan mungkin air mata tak pernah  begitu saja berlalu sia-sia. Terbukti  dalam kurun waktu dua tahun  (1986-1987) CU Sinar Harapan mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupannya kembali. Hasilnya pada awal tahun 1988  digelar Rapat Anggota Tahunan untuk pertama kalinya. Inilah tonggak sejarah dimulainya pengeloaan CU Sinar Harapan secara serius dan profesional. Apalagi pada RAT pertama itu juga dipilih  Rofinus Raga sebagai Ketua Pengurus dan Yoseph Madha sebagai Wakil Ketua pengurus. Formasi  ini menyiratkan bahwa Rofinus Raga  ingin melakukan kaderisasi kepemimpinan  karena ia sendiri sangat menyadari usianya  yang sudah di atas 60  tahun waktu itu.

Sejak tahun 1988 itu sejarah Kopdit Sinar Harapan terus bergulir. Tahun 1988 Pemkab Kabupaten Ngada  menggulirkan pinjaman bergulir P2LDT  sebesar Rp 1.500.000 (nilai uang waktu itu) untuk perbaikan rumah tangga miskin. Uang itu dikelola menjadi dana abadi lembaga yang kemudian dipinjamkan kepada anggota. Tanggal 30 Agustus 1998  Rofinus Raga meninggal dunia  masih dalam kapasitasnya sebagai Ketua Pengurus  periode keempat. Awal  tahun 1999  RAT  memilih Yoseph Madha sebagai Ketua Pengurus.

Guru SD ini  terus mendapat kepercayaan anggota untuk memimpin  Kopdit Sinar Harapan  sampai tahun 2014 lalu sambil melakukan kaderisasi kepemimpinan koperasi. Di tangan Yoseph Madha dan menejer Yohanes Soba serta manejemen dan para anggota  Kopdit Sinar Harapan terus berkembang.Data  menunjukkan sampai 31 Desember 2014  jumlah anggota telah mencapai 7.099 orang dan 99% profesi anggota adalah petani. Aset Kopdit Sinar Harapan  telah mencapai Rp 54.278.256.581. Sejak 2014 lalu Yoseph Madha  masih diberikan kepercayaan sebagai Ketua Pengawas.

Sederet prestasi telah diraih oleh Kopdit Sinar Harapan Malapedho. Tahun 2001  dinobatkan sebagai  Kopdit Model  tahun 2000. Tahun 2004  Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Ngada  memberikan  predikat  Kopdit Berprestasi  dalam hal simpan pinjam tingkat nasional, juara pertama Kopdit  Berprestasi Provinsi NTT dan juara pertama  Kopdit Berprestasi  Kabupaten Ngada. Dengan penghargaan ini Kopdit Sinar Harapan Malapedho diundang ke Jakarta  untuk menerima penghargaan dan plakat dari Menteri Negara Koperasi dan UKM.

Tahun 2001 Kopdit Sinar Harapan menerima penghargaan Koperasi Model 2000  yang mengundang  Rektor Universitas Trisakti Prof. Thoby Mutis mengunjungi Kopdit Sinar Harapan di  Malapedho. Tanggal 12 Juli 2008 Ketua Pengurus Yoseph Madha menerima penghargaan Kopdit Berprestasi Nasional langsung dari Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. Tahun 2012 Kopdit Sinar Harapan menerima  predikat Koperasi Klasifikasi A dari Dinas Koperasi UKM Kabupaten Ngada dan di tahun yang sama pemerintah Kabupaten Ngada menetapkan  Yoseph Madha sebagai  tokoh koperasi Ngada.

Dengan mengusung  Visi “Bersahabat menuju pertumbuhan berkelanjutan”, Kopdit Sinar Harapan memang  benar-benar tumbuh dan berlanjut untuk menggapai misi yang  telah disepakati oleh anggota. Menggapai misi  meningkatkan mutu  sumber daya manusia melalui pelatihan, penguatan kapasitas, fungsionaris serta pendidikan anggota agar  semakin memiliki kecerdasan mengelola keuangan. Menggapai misi  meningkatkan keswadayaan melalui gerakan menabung teratur, menuju kemandirian modal dan usaha. Menggapai misi menumbuhkembangkan semangat solidaritas antar sesama anggota dan sesama gerakan agar menjadi lembaga pelayanan keuangan yang kuat, aman dan terpercaya. Dan menggapai misi  senantiasa menemukan inovasi untuk mengembangkan mutu produk dan mutu pelayanan sesuai tuntutan perubahan di bidang social ekonomi dan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.***tinoe




Kopdit  Sinar Harapan

Dari Malapedho Menyinari NTT




 Entah kebetulan atau  sengaja ketika para pendiri Kopdit Sinar Harapan Malapedho di Desa Inerie Kecamatan Inerie. Kabupaten Ngada Flores Nusa tenggara Timur  memilih nama “Sinar Harapan. Ketua Kopdit Sinar Harapan Malapedho  Martinus Madha  yang ditemui di sela-sela Open Forum Inkopdit Mei 2015 lalu di Surabaya  hanya melemparkan senyum. Demikian juga Menejer  Kopdit Sinar Harapan Malapedho Yohanes Soba, hanya tersenyum  saat ditanya mengapa Kopdit yang berdiri di sebuah desa  diberi nama Sinar Harapan.

Tetapi  nama tentu memiliki sejarah dan makna. Demikian pula dengan pemilihan nama “Sinar Harapan” oleh para inisiator  yang melahirkan Credit Union Sinar Harapan  tahun 1982  silam. Malapedho  sebelum tahun 1982 hanyalah sebuah desa yang serba kekurangan dari segala aspek. Komunikasi dan transportasi  masih sangat terbatas. Tetapi dinamika pembangunan  mulai menggeliat. Masyarakatnya mulai sadar betapa pentingnya membangun sumber daya manusia melalui pendidikan. Maka tahun 1980  didirikan sebuah SMP  yang diberi nama  SMP Panca Karsa  yang bernaung di bawah Yayasan Lina Riwu.

Ketika itu datanglah  seorang guru, mantan seminari  yang dibenum  menjadi guru bahasa Inggris di SMP yang kini telah menjadi  SMP Negeri 2 Aimere. Dia bernama Clemens Kolo. Kini ia sudah almarhum tetapi namanya dikenang sebagai inisiator berdirinya Koperasi Kredit (CU) Sinar Harapan. Bersama 25 orang lainnya mereka sepakat mendirikan CU dengan nama Sinar Harapan  dan Clemens Kolo didaulat menjadi ketua. Mungkin tak seorangpun yang berani meramal  bahwa CU yang lahir di desa sederhana  kelak menjadi lembaga keuangan non bank  yang telah dirasakan manfaatnya oleh ribuan orang. Clemens Kolo  saat ini boleh tersenyum dari dunia sana  melihat para anggota yang  merasakan buah-buah manis dari Sinar Harapan.

Meskipun begitu, CU Sinar Harapan  ibarat  siklus waktu,  ada siang dan ada malam, ada terang dan ada remang-remang  serta ada gelap gulita, ada panas dan hujan, ada musim hujan dan musim kemarau. Siklus waktu inilah yang juga dilewati oleh CU yang kini lebih popular dengan Koperasi Kredit Sinar Harapan. Tetapi sinar tidak selamanya redup karena selama  siang dan malam masih bergantian, sinar akan tetap  ada, tetap datang dan tetap menyinari  dunia. Mungkin  itulah  arti dan makna nama Sinar Harapan. Ketika embrio CU Sinar Harapan nyaris  layu sebelum berkembang tahun 1984, sinar kembali mekar melalui figur tokoh Desa  Rofinus Raga.

Di bawah kendalinya yang berani membuat gebrakan, berani mengambil tindakan, berani melakukan inovasi-inovasi  Kopdit Sinar Harapan kembali menggeliat. Dan hasilnya  awal tahun 1988  untuk pertama kalinya Kopdit Sinar Harapan menyelenggarakan Rapat Anggota. RAT itu  seolah-olah tonggak  sejarah yang  mau memroklamirkan kepada  dunia sekitar Malapedho  bahwa CU Sinar Harapan  akan dikelola secara profesional dan RAT pertama ini adalah titik tumpu di nol kilometer  untuk memulai langkah melewati beribu bahkan berjuta kilometer menuju masa depan. Sosok Rofinus Raga telah almarhum  tetapi namanya tetap harum. Ia pasti tersenyum dari alam sana melihat Kopdit Sinar Harapan sudah menjadi pohon beringin yang besar menaungi banyak orang.
Ayunan langkah Kopdit Sinar Harapan  jika dihitung dari 1981  sampai kini 2015  sudah 34 tahun, usia yang sudah masuk ke fase dewasa jika dibandingkan dengan usia manusia. Pertanyaannya adalah, apakah Kopdit Sinar Harapan sudah mapan? Ketua Kopdit Sinar Harapan Martinus Madha  mengatakan yang terpenting adalah bukan mengakui Kopdit Sinar Harapan sudah mapan atau belum  tetapi yang penting adalah  bagaimana  belajar untuk semakim mapan  dan mempertahankannya.

Inilah fakta tak terbantahkan, Kredit Union/Kopdit Sinar Harapan  yang  lahir di sebuah desa kini telah mengemban sayapnya ke seluruh penjuru  Ngada  dan Manggarai Timur. Dengan mengantongi Badan Hukum Nivo Provinsi NTT Nomor: 26/BH/KWK.24/VII/1997 Kopdit Sinar Harapan  siap menyinari Nusa Tenggara Timur. Saat ini telah membuka cabang di Aimere, Jerebuu, Mangulewa, Mataloko dan Kisol Manggarai Timur.”Kami  berbadan hukum Nivo Provinsi  sehingga  Sinar Harapan  akan bersinar ke masa depannya  di seluruh Nussa Tenggara Timur”, ujar Menejer Kopdit Sinar Harapan Malapedho Yohanes Soba. Sungguh, dari Malapedho, Sinar Harapan menyinari NTT.

Kini di tangan pengurus Martinus Madha selaku ketua, Aloysius Dea  selaku wakil ketua, Sekretaris 1 Albertus Mogo, sekretaris 2 Adriana Idju dan bendahara Yohanes Dhosa Nay, Kopdit Sinar Harapan  akan semakin menambah energy untuk  semakin bersinar. Di tangan para pengawas Yoseph Madha selaku ketua dan anggota masing-masing Cornelis Rie dan Oscar Toka, kinerja  Kopdit Sinar Harapan akan selalu ada dalam pengendalian internal. Tentu  masukan-masukan dari Ketua Penasihat Hubertus Sari, dan anggota penasihat Nikolaus Lange dan Philipus Tuga, sinar  dari Kopdit Sinar Harapan tak akan pudar, sampai kapanpun.***tinoe 

Minggu, 25 Januari 2015

Kopdit Sumber Kasih Tangeb Gelar RAT XX Tahun Buku 2014




Koperasi Kredit  Sumber Kasih Tangeb  Minggu 25 Januari 2015  menyelenggarakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) XX  Tahun Buku 2014. RAT  yang dimulai pukul 09.00 wita itu dihadiri oleh  Pengurus, Pengawas, Manajemen dan anggota  dan berlangsung di  Gedung Serba Guna Paroki  St. Theresia Tangeb.Hadir Sekretaris Pengurus Puskopdit Bali Artha Guna Drs. Agustinus  Nyoman Yasa  dan  pejabat yang mewakili Kadiskop UMKM Provinsi Bali I Gusti Agung Ketut Kartika Jaya Seputra,M,MH yang juga adalah Kepala Bidang Pengkajian dan pengembangan Koperasi UMKM Dinas  Koperasi UMKM Provinsi Bali.
Rapat Anggota  Tahunan ini diawali dengan  sambutan-sambutan yang disampaikan oleh Ketua Pengurus Kopdit Sumber Kasih Tangeb  Drs. Nyoman Marsina, sambutan  Drs. A Nyoman Yasa, Sekretaris Pengurus Puskopdot Bali Artha Guna  yang mewakili Ketua Pengurus  dan sambutan Kadiskop  UMKM Provinsi Bali  Dewa Nyoman Patra,SH,MH yang dibacakan Kabid  Pengkajian dan Pengembangan Koperasi UMKM  Dinas Koperasi UMKM Provinsi Bali. Ketua Pengurus Drs. Wayan Marsina  mengajak seluruh anggota untuk memanjatkan puji syukur kepada  Tuhan  karena RAT XX  ini dilaksanakan tepat waktu. Ia  mengatakan kepengurusan dan manajemen  telah berusaha bekerja keras untuk mencaai target SHU. 
 
Mewakili  Puskopdit Bali Artha Guna  Drs. A Nyoman Yasa  mengatakan   Kopdit Sumber Kasih Tangeb  sebagai salah satu anggota  Puskopdit Bali Artha Guna  telah  menunjukkan   kinerja sebagai koperasi yang sehat. Hal ini dilihat dari berbagai capaian yang menggembirakan meskipun  ada hal-hal yang perlu ditingkatkan kinerjanya. Ia meminta anggota Kopdit Sumber Kasih Tangeb  untuk  memberikan yang terbaik kepada  kopdit  Sumber Kasih tangeb  sehingga lembaga ini terus tumbuh dan berkembang dan bermanfaat bagi anggotanya.  Sedangkan Kadiskop UKM Provinsi Bali  Dewa Nyoman Patra,SH,MH  dalam sambutan tertulis yang dibacakan Kabid  Pengkajian dan Pengembangan Koperasi UMKM  Dinas Koperasi UMKM Provinsi Bali meminta anggota  untuk rajin  menabung. Kata dia,  anggota koperasi yang baik adalah  rajin menabung, rajin meminjam dan mengangsur tepat  waktu. Katanya pemerintah akan terus mendorong  agar koperasi-koperasi di Bali  tumbuh secara sehat  sehingga  dapat memberikan manfaat bagi  anggota khususnya dan masyarakat umumnya.
Usai sambutan-sambutan  dilanjutkan dengan  rapat  anggota  yang dipimpin oleh  pimpinan sidang terdiri dari Ketua  FX Made Hirawan,S.Pd, Wakil Ketua Drs. Paulus  Ketut Dongker  dan sekretaris D.Nyoman Litek Diarsa.Acara inti RAT  adalah laporan pertanggungjawaban pengurus dan laporan pengawas  tahun buku 2014. Ketua Pengurus Drs. Nyoman Marsina  melaporkan  tentang realisasi rencana kerja dan RAPB  tahun buku 2014. Diterangkannya, kinerja tahun buku 2014  menunjukkan hal yang positif dibuktikan dengan pertumbuhan anggota yang mencapai 30,38%, suatu pencapaian yang cukup tinggi meskipun  tidak mencapai target. Dilaporkan pengurus pertumbuhan anggota dibandingkan dengan tahun buku 2013  mengalami peningkatan. Tahun 2013  jumlah anggota 2.195 orang  sedangkan tahun 2014  meningkat menjadi 2.862 orang atau bertambah 667 orang.
Kepercayaan kepada Kopdit Sumber Kasih Tangeb  juga semakin kuat. Ini dibuktikan dengan terus meningkatnya  modal simpanan yang terdiri dari simpanan pokok  dan simpanan wajib. Tahun buku 2013  modal simpanan  Rp 3.540.307.000  naik menjadi Rp 4.329.488.000 di tahun buku 2014. Modal lembaga yang terdiri dari  cadangan umum, cadangan resiko dan donasi  naik dari Rp 1.292.387.325 tahun buku 2013  menjadi Rp  1.784.858.345  tahun buku 2014. Modal hutang yang terdiri dari tabungan  koperasi, simpanan berjangka dan pinjaman yang diterima  naik dari Rp 12.572.779.329 tahun buku 2013 menjadi Rp 19.476.387.399  tahun buku 2014.  Dari sisi asset  tahun 2013  Rp 19.303.044.828 naik tahun 2014 menjadi Rp 27.750.589.886 tahun buku 2014. Sedangkan SHU pada tahun buku 2013 sebesar Rp 252.432.630  naik menjadi Rp 414.488.857 tahun buku 2014.
 
Dilaporkan juga oleh pengurus  bahwa pada tahun buku 2014  jumlah pinjaman ke anggota meningkat Rp 7,4 miliar lebih. Meningkatnya angka pinjaman yang beredar  di tahun buku 2014  didukung oleh suku bunga beberapa produk pinjaman seperti  pinjaman usaha mikro, pinjaman usaha makro dan pinjaman KPR yang diturunkan dari 1,75% menjadi 1,5% perbulan menurun. Pinjaman  yang diedarkan ke anggota pada  tahun buku 2013 sebesar Rp 16.410.586.580  naik menjadi Rp 23.899.104.267  pada tahun buku 2014.
Adapun produk pinjaman yang diberikan  antara lain pinjaman umum  tahun 2013  sebesar Rp 8.730.174.200  naik menjadi Rp 10.163.270.000 tahun buku 2014. Pinjaman khusus  dari Rp 265.769.000  tahun 2013  turun menjadi Rp  55.540.000 tahun 2014.Pinjaman diberikan special Rp 214.279.000 tahun 2013  sedangkan tahun 2014 Rp 175.125.000. Pinjaman mikro  Rp 127.446.900  di tahun 2013  naik menjadi Rp 514.412.600  tahun  2014. Yang menarik adalah peningkatan  angka pinjaman KPR dan pinjaman makro  yang cukup signifikan.  Pinjaman KPR pada 2013 sebesar Rp  2.937.156.500  naik  menjadi Rp 4.179.358.600 tahun 2014.Pinjaman makro dari Rp 3.717.960.800 tahun 2013 naik  mencapai Rp 8.347.074.000  tahun 2014. Pinjaman mikro pasar cenderung turun  yakni Rp 142.531.100  tahun 2014  sedangkan tahun 2013 mencapai Rp 169.931.280. Pinjaman back to back  naik  dari Rp 247.868.900  tahun 2013  menjadi Rp 321.792.967  tahun buku 2014.
 
Namun  diakui oleh pengurus bahwa pendapatan koperasi belum maksimal karena target  simpanan non saham tidak tercapai meskipun sudah ditawarkan hadiah  sepeda motor untuk jenis simpanan Sibuhar.  Sesuai rencana kerja tahun buku 2014 target pencapaian  Sibuhar A  Rp 8.500.000   namun sampai 31 Desember 2014  terealisasi sebesar Rp 6.354.268.633. Sibuhar B  ditargetkan Rp 4.800.000.000  realisasinya  Rp 3.881.992.654.Simpel, target Rp200 juta  realisasi Rp 46.800.732, Sisuka  target Rp 6 miliar  realisasi Rp 7.391.500.000, Simapan target Rp 1.500.000.00realisasi  990.497.940 dan produk kreatif target Rp 500.000.000  realisasi Rp 211.327.440.
Pada kesempatan RAT tersebut pengurus juga melaporkan  tentang pergantian  kepengurusan yang dilakukan pada Maret 2014 lalu. Kepengurusan  masa bhakti 2013-2015  sebelumnya  dengan susunan organisasi  ketua I Gusti Ngurah Rai Gregorius,S.Pd, wakil Drs. FX Ketut Lata  Suardiana, sekretaris Yoseph Lado Tukan, bendahara 1 Antonius Wayan Puger  dan bendahara  2 I Made Sucita. Sedangkan pengawas  ketua Drs. Nyoman Marsina, anggota  Drs. Blasius Ketut Lata dan Anton Parmo. Pada Maret 2014  terjadi perubahan komosisi kepengurusan yakni Ketua Pengurus Drs. Nyoman Marsina, wakil ketua Drs. FX Ketut Lata Suardiana  sedangkan sekretaris dan bendahara  tetap tak berubah.  Ketua pengawas  dipercayakan ke Anton  Parmo  dengan anggota  Drs. Blasius Ketut Karyawan dan Matias Sugeng Prihatin. Sedangkan  I Gusti Ngurah Rai Gregorius,S.Pd yang sebelumnya  adalah ketua pengurus dibenum  menduduki jabatan Menejer.
Sementara  Ketua Pengawas  Anton  Parmo  mengatakan  pengawas telah menjalankan tugas pengawasan internal selama tahun buku 2014  dan dari hasil penilaian  Kopdit Sumber Kasih Tangeb memperoleh  nilai 80,85  masuk kategori sehat. Jadi Kopdit Sumber Kasih  adalah koperasi yang sehat sehingga  para anggota tak usah takut menyimpan uang di koperasi ini. Parmo  mengatakan dari  berbagai capaian yang menggembirakan dapat disimpulkan bahwa  pengurus dan manajemen telah bekerja berdasarkan rambu-rambu yang telah ditetapkan. Indikasinya adalah meningkatnya  simpanan saham dan non saham serta berjalannya  program pendidikan bagi manajemen. Namun disarankan agar manajemen bekerja lebih keras  lagi, tingkatkan pendidikan koperasi  dan mendorong anggota untuk  berkomitmen pada kewajibannya. Pengurus dan manajemen  agar  menjaga ratio keuangan  dengan baik  sedangkan khusus rencana pembukaan Tempat Pelayanan  agar memperhatikan wilayah anggota, pusat ekonomi serta  tempat strategis.
Pada RAT XX  ini salah satu anggota  beruntung meraih hadiah utama  satu unit sepeda motor honda vario  seharga Rp 16.550.000 karena  berhasil menyimpan Sibuhar  terbesar  tahun buku 2014. Anggota yang beruntung tersebut adalah Putu Ari Parleni warga Lingkungan Delod Pempatan Abianbase. Selain itu juga diundi hadiah-hadiah door prize. Peserta RAT XX ini menerima  laporan pertanggungjawaban Pengurus tahun buku 2014, laporan pengawas tahun buku 2014, rencana kerja dan rencana anggaran pendapatan dan belanja Kopdit  Sumber Kasih Tangeb tahun buku 2015  dan pola kebijakan tahun buku 2015.  Peserta RAT juga menetapkan pimpinan sidang  RAT Tahun Buku 2015 adalah I Nyoman Sudita,SH, LB Ketut Sarino dan Yohanes Nandus. Juga disepakati RAT XXI Tahun Buku 2015  dihadiri oleh seluruh anggota.***agust g thuru/anggota nba.118. 



Kamis, 22 Januari 2015

Koperasi dan Pemberantasan Narkoba







 Perempuan, korban narkoba di Indonesia

Tanggal 26 Juni setiap tahun ditetapkan oleh PBB sebagai Hari Anti Narkoba Sedunia. Mungkin  para anggota Koperasi  ada yang bertanya-tanya, apa relevansi  Hari Anti Narkoba  dengan  Gerakan Koperasi  Kredit  Indonesia? Tapi tahukah kita  berapa juta  jiwa  yang mati sia-sia akibat  narkoba? Dan sadarkah kita bahwa dari antara mereka  mungkin termasuk  anak-anak  dari para  anggota koperasi?
Narkoba adalah  singkatan dari narkotika dan  obat atau bahan berbahaya   atau istilah lain  yang diperkenalkan oleh Depertemen Kesehatan Republik Indonesia  adalah Napza  singkatan dari  narkotika, psikotropika dan zat  adiktif. Apapun  nama dan istilahnya, narkotika, psikotropika dan zat adiktif  saat  ini  adalah pembunuh  yang  bisa memusnahkan satu generasi  umat manusia. Karena itu  diperlukan keterlibatan  semua   pihak  untuk memberantas  Narkoba, termasuk keterlibatan  para Gerakan Koperasi Kredit  Indonesia.
Para aktivis  Gerakan Koperasi Kredit  Indonesia adalah bagian integral  dari  bangsa tercinta ini, sehingga  dituntut untuk selalu peka  terhadap situasi sosial  yang terjadi di sekitarnya. Peredaran narkoba  di  Indonesia  adalah masalah  sosial  yang harus dientaskan  termasuk  oleh insan koperasi. Panggilan bagi insan koperasi  untuk turut serta  memberantas  narkoba  bukan tanpa  dasar.
Tahun  1995 International Cooperative Alliance (ICA) merumuskan  nilai-nilai  yang  harus dianut oleh  koperasi dimana nilai-nilai itu  sifatnya manusiawi dengan menjunjung tinggi harkat dan martabat  manusia sebagai  mahkluk Tuhan, individu dan sosial. ICA mermuskan nilai-nilai itu sebagai berikut;Koperasi-koperasi berdasarkan nilai-nilai menolong diri sendiri, tanggungjawab sendiri, demokrasi, persamaan, keadilan dan kesetiakawanan. Mengikuti tradisi para pendirinya anggota-anggota koperasi percaya pada nilai-nilai ethis kejujuran, keterbukaan, tanggungjawab sosial serta kepedulian pada orang lain”.
ICA memilahkan adanya nilai-nilai dasar dan nilai-nilai ethis.Nilai-nilai dasar adalah sebagai berikut; Menolong diri sendiri (self-help), Tanggungjawab sendiri (self-responsibility), Demokrasi (democracy), Persamaan (equality), Keadilan (equity) dan Solidaritas (solidarity). Sedangkan  nilai-nilai  ethis  adalah sebagai berikut; Kejujuran (honesty), Keterbukaan (openness),Tanggungjawab sosial (social responsibility) dan Kepedulian terhadap orang lain (caring for others).
Khusus  tanggungjawab sosial (social responsibility) nilai ini berkaitan dengan watak sosial koperasi artinya koperasi tidak tinggal diam melainkan merasa memiliki tanggungjawab dalam ikut memecahkan masalah-masalah aktual yang dihadapi masyarakat secara seutuhnya. Masalah-masalah dimaksud   antara lain pemeliharaan kelestarian lingkungan, pemberantasan kemiskinan, penanggulangan pengangguran, pemberantasan narkoba, tanggap pada musibah akibat bencana alam ataupun kerusuhan politik dan lain-lain.
Sedangkan  nilai kepedulian terhadap orang lain (caring for others) ini berarti koperasi tidak bersikap egois hanya mementingkan dirinya sendiri, melainkan memiliki kepedulian atas nasib orang-orang lain yang ada di sekitarnya. Kalau tanggung jawab sosial sasarannya adalah masyarakat secara seutuhnya, maka kepedulian terhadap orang-orang lain sasarannya lebih khusus tertuju pada orang-orang tertentu atau kelompok tertentu yang tinggal di sekitar koperasi.
Jadi jelas  bahwa  para aktivis  koperasi dituntut untuk memiliki tanggungjawab  sosial, yang salah satunya adalah  ikut serta, bukan secara pasif  melainkan secara aktif  memberantas   narkoba. Pertanyaan  kita adalah  sudah demikian  berbahayakah  peredaran maupun  pemakai  narkoba di Indonesia, termasuk di Bali  yang dikenal sebagai destinasi  pariwisata kelas dunia ini?  Mari  kita refleksikan data yang dipaparkan  pada tulisan lain di halaman ini.

Narkoba Semakin Ganas Membunuh


Jika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)  menetapkan tanggal  26 Juni  sebagai Hari Anti Narkoba Sedunia itu berarti  narkoba  sudah merupakan  ancaman  serius  bagi kehidupan manusia  di muka bumi ini. Jadi  saatnya kita  mengatakan  perang  terhadap  barang haram  bernama Narkoba itu.
Narkoba  sudah menjadi epidemik besar di Indonesia. Berbagai upaya dilakukan untuk mencegah peredarannya namun  angka pengedar maupun pemakai  terus bertambah dari tahun ke tahun. Korbannya  termasuk  pelajar, bahkan mulai dari anak sekolah dasar sampai dengan mahasiswa, mulai dari PNS, TNI, Polisi   sampai  dengan penganggur. Data  dari  Direktorat Tindak Pidana Narkotika, Maret 2012  menyebutkan  setiap hari  ada 40  orang di Indonesia tewas  karena narkoba  dan setiap tahun   ada  sekitar 15.000  orang  yang meninggal dunia  akibat over dosis.
Direktorat  Tindak Pidana Narkotika, Maret 2012 memaparkan data  yang membuat kita mengelus dada sedih dan prihatin. Secara  nasional  antara tahun 2007-2011 telah terjadi  69.462 kasus narkotika, 30.633 kasus psikotropika dan 39.164 kasus  bahan adiktif. Jumlah tersangka  dari tahun ke tahun tak pernah surut. Tahun 2007  jumlah tersangka 32.161 orang, 2008  sebanyak 26.553 orang, 2009  sebanyak  26.768 orang, 2010  sebanyak 25.402 orang  dan tahun 2011  sebanyak 27.151 orang. Antara 2007-2011  tercatat  138.015 tersangka.
Tersangka  kasus narkoba berdasarkan peran antara tahun 2007-2011, sebagai kultivasi  226 orang atau 0,1%,produksi  354 orang atau  0,2%, distribusi (pengedar) 86.446 orang atau 62,1%, konsumsi (pemakai) 73.357 orang atau  38,8%. Dari data ini kita  bisa lihat  bahwa pengedar dan pemakai  narkoba  nyaris seimbang, artinya ada yang menjual dan ada yang membeli. Ironisnya tersangka kasus narkoba didominasi oleh warga negara Indonesia. Data tahun 2007-2011 menunjukkan  ada 188.766 orang  atau 99,7%  tersangka WNI  dan  hanya 528 orang atau 0,3%  warga negara asing.
Berdasarkan usia, sungguh mengejutkan  karena  usia  di bawah 16 tahun pun  sudah tersangkut kasus  narkoba. Data  2007-2011  menunjukkan tersangka kasus narkoba di bawah usia 16 tahun  561 orang  (0,3%),16-19  tahun  9.635 orang (5,1%),20-24 tahun 30.494 orang (16,1%), 25-29 tahun 49.776 orang (26,3%)  dan di atas  usia 30 tahun  98.828 orang (52,2%).  Dari segi pendidikannya, SD 22.401 orang (11,8%), SMP 44.878 orang (23,7%), SMA/SMK  117.147 orang (61,9%) dan PT  4.868 orang (2,6%).
Ditinjau dari pekerjaannya, tersangka kasus narkoba dari tahun 2007-2011 yang Pegawai Negeri Sipil  1.268 orang (0,7%), Polisi/TNI  1.331 orang (0,7%), swasta  80.099 orang (42,3%), wisatawan  46.189 orang (24,4%), petani  4.290 orang (2,3%),  buruh  19.722 orang (10,4%), mahasiswa 3.143 orang (1,7%), pelajar  3.137 orang (1,7%) dan penganggur  30.115 orang (15,9%). Dari data ini  menunjukkan bahwa narkoba sudah menyerang  siapa saja termasuk anak-anak Sekolah Dasar  sampai mahasiswa, tersebar di seluruh Indonesia ytermasuk  di Bali.

Narkoba  Mengincar  Bali

Bali  sebagai destinasi  pariwisata  dan menjadi  medan pertemuan  antar  manusia dengan berbagai latar belakang sosial budaya  telah menjadi surga  narkoba  bagi para sindikasi  pengedar  narkoba. Korban  berjatuhan dan mungkin termasuk anak-anak  kita.
Menurut data  Direktorat  Tindak Pidana Narkotika, Maret 2012 di Provinsi Bali  antara 2007-2011 terjadi  3.719  kasus narkoba. Kasus  narkotika pada 2011 lalu  347 kasus, psikotropika  1 kasus,bahan aditif  539 kasus. Tahun 2011 jumlah tersangka kasus narkotika 397 orang, psikortopika 1 orang dan bahan auditif  545 orang. Di tahun yang sama (2011)  jumlah pengedar  638 orang dan pemakai  305 orang. Dilihat dari usia, tahun 2011 pelaku dibawah 16 tahun  1 orang,16-19 tahun 13 orang, 20-24 tahun 94 orang, 25-29 tahun 190 orang dan diatas 30 tahun  643 orang.
Dari sisi pendidikan, antara tahun 2007-2011  jumlah tersangka narkoba 
 Awas, Narkoba incar  orang muda


berpendidikan SD  311 orang, SMP  620 orang, SMA/SMK  2.886 orang, Perguruan Tinggi  168 orang. Sedangkan berdasarkan profesi data 2007-2011 menunjukkan PNS  19 orang, Polisi/TNI  10 orang, swasta  2.623 orang, wisatawan 849 orang,petani  258 orang, buruh 36 orang, mahasiswa 37 orang, pelajar 17 orang dan penganggur  146 orang.
Memang peredaran  narkoba di Bali  menunjukkan grafik yang terus menanjak dari tahun ke tahun. Berdasarkan catatan Polda Bali  selain  warga negara Indonesia  sebagai pelakunya, juga warga negara asing. Bahkan  warga negara asing itu  telah menjadikan Bali  sebagai surga  bagi para  sindikat perdagangan  narkoba. Tahun 2010  tercatat ada  30  warga negara asing  yang tersangkut   pada 297  kasus  penyalahgunaan narkoba. Sementara  tahun 2011   ada 15 warga negara asing  tersangkut  pada  246  kasus penyalahgunaan narkoba.
Data yang diperoleh dari  Badan Nasional Narkotika (BNN) Provinsi Bali  memperlihatkan  sampai tahun 2011  pelajar dan mahasiswa  belum terbebas  dari sasaran  peredaran  gelap  narkoba. Dari 821  tersangka pelaku yang ditangani, 13 tersangka  adalah pelajar dan mahasiswa. Tahun 2010 terdapat 790 kasus di seluruh Bali baik yang ditangani Polda Bali, ataupun yang ditangani Polres atau Polresta seluruh Bali. Pada tahun  2011 lalu dari sejumlah 821 kasus itu, terdapat 554 tersangka berperan sebagai pengedar, serta 267 orang tersangka lain sebagai pemakai atau konsumen. Jenis barang yang diamankan, narkotika sebanyak 300 kasus, serta Miras (Minuman Keras) sebanyak 472 kasus. 
Menurut Kombespol Gusti Ketut Budiarta, Kalakhar Badan Narkotika Provinsi Bali meskipun hanya 13  tersangka  dari kalangan pelajar dan mahasiswa  namun  hal ini membuktikan  bahwa masihb diperlukan peran orang tua dalam memantau perkembangan dan pergaulan anak-anaknya. Para orang tua masih perlu meningkatkan pengawasannya terhadap anak apalagi usia-usia seperti itu masih tergolong labil.
Dikatakannya bimbingan orang tua masih sangat dibutuhkan mereka. Selain itu supaya pihak keluarga tidak menyembunyikan anggota keluarganya yang terlanjur menjadi pecandu  apalagi menganggapnya sebagai aib sehingga enggan diketahui publik. Kata dia, pihak BNN selalu terbuka jika pihak keluarga mengharapkan bantuan pengobatan untuk kesembuhan dengan biaya ditanggung pemerintah.

  Mendengar  Suara Orang Muda
Kami Perlu Perhatian Orang Tua

Orang muda  kini menjadi sasaran empuk narkoba. Mereka banyak yang menjadi korban, sebagai pemakai. Pada hal  kaum muda adalah generasi emas bagi masa depan Indonesia. Mengapa  orang muda  banyak yang jatuh  ke dalam  lingkaran perdagangan  narkoba? Dan apa harapan mereka?
Orang  muda mengharapkan  perhatian  orang tua, bukan perhatian dalam bentuk  harta  benda saja tetapi terutama  sentuhan  kasih sayang. Banyak  orang tua sibuk  dengan urusan  mereka, pergi ke mana saja untuk urusan bisnis  atau pertemuan-pertemuan, meninggalkan anak-anak   bertumbuh sendirian  di rumah, cukup diawasi oleh  pembantu  rumah tangga  atau  sopir  dan Satpam. Akibatnya  anak-anak  mengalami kesepian  batin. Lalu mereka  mencari  kompensasi dan bertemulah dengan  narkoba. Di situ mereka  jatuh terjerembab  hingga sulit untuk bangkit lagi. Kita kehilangan  satu generasi  yang diharapkan  sebagai pelaku  tata dunia ke masa depan.
Suara  para  remaja  berikut ini  dipastikan mewakili  suara jutaan  remaja  atau orang muda. Ketua Osis SMAN  2 Denpasar  Anak Agung Amanda Yogie Rinata  atau akrab dipanggil Amanda berpendapat, kaum remaja adalah gererasi emas bagi masa depan Indonesia. Jadi kalau  generasi muda  rusak, apa yang terjadi pada masa depan  bangsa kita sudah bisa  ditebak.”Narkoba itu adalah kesenangan sesaat, semu dan tak memberikan keuntungan apapun. Justru sebaliknya   menghancurkan  masa depan”, ujar siswi kelas XI/IPA4 kelahiran Denpasar  1 Oktober  1995  yang punya hoby berorganisasi ini. Ia menyayangkan  banyaknya  kaum remaja yang terjerumus  jatuh  di lembah hitam  narkoba.
Putri pasangan  Ir. A.A Ketut Adi Arnata dan Desak Made Umbari ini mengatakan, para  remaja  kini berjatuhan  karena  tidak bisa mengendalikan diri, dan cenderung menyelesaikan  persoalan yang mereka hadapi  dengan melakukan  hal-hal negatif. Pada hal, seharusnya  ada banyak  cara positif  untuk menyelesaikan  persoalan  yang mereka hadapi, salah satunya  dengan aktif  dalam berbagai kegiatan  organisasi.Untuk  mengatasi  atau memutus  rantai  narkoba, semua pihak harus sadar  dan benar-benar memberikan perhatian serius. Keluarga  sangat menentukan  remaja  tumbuh menjadi  manusia yang berkarakter, cerdas  dan memberikan harapan bagi masa depan  atau  justru sebaliknya  mereka  hancur. Ia  mengharapkan  agar para orang tua  benar-benar mengawasi anak-anaknya  dan mengarahkan mereka untuk melakukan  kegiatan positif.”Kami minta orang tua  harus  bisa mengawasi anak-anak, tahu  apa yang mereka lakukan  dan dimana mereka  melakukan kegiatan. Orang tua harus ada waktu untuk  anak-anaknya.Teman-teman remaja pun harus bersedia  diawasi oleh orang tua, karena  memang   dimasa  remaja  kita  sangat rentan  terhadap godaan”, ujar Amanda lagi.
Pendapat  sama juga disampaikan  Anak Agung Ayu Candra Dewi, siswi kelas XI/IPA 1 SMAN 2 Denpasar. Menurutnya narkoba  menghentikan  ayunan langkah  menggapai cita-cita. Menggapai cita-cita itu  ibarat memetik bintang di langit, harus melalui perjuangan. Tapi kalau terjerumus dalam narkoba, cita-cita  tak bakal  dicapai. Narkoba  bisa  mengubah hidup  seseorang, bukan ke arah positif melainkan  ke arah negatif, menghancurkan. Ia  mengatakan  kaum remaja harus berkomitmen bahwa tak ada tempat  bagi narkoba dalam  hidupnya.”Buat apa  menjadi hamba dari narkoba? Narkoba itu membunuh masa depan”, ujar Gung Ayu.
Menurutnya menyalahgunakan narkoba  adalah tindakan bodoh. Kalau mengonsumsi  narkoba dengan alasan  untuk mendapat ketenganan itu  keputusan bodoh.”Kalau  mau mendapat ketenangan yah berdoa, bukan membunuh diri dengan  racun yang mematikan”, ujar  remaja kelahiran Denpasar  17 Juli 1995 ini. Putri kesayangan pasangan ayah  A.A Bagus Ngurah Agung  dan ibu A.A Ayu Ngurah Tini Rusmini Gorda ini  mengatakan  narkoba  tidak menguntungkan. Karena itu teman-teman remaja  harus  berpikir positif  dan menjauhkan diri dari pengaruhnya yang negatif. Ia juga berharap agar  orang tua  jangan  hanya  sibuk mengurus diri sendiri, mengurus karir  atau bisnis dan mengabaikan  anak-anak. Kata  dia, anak-anak perlu perhatian, bukan  kelimpahan harta saja, tapi  cinta.
Ketua Osis  SMKN 3 Sukowati I Dewa Ketut Wicaksandita juga mengharapkan agar  para guru, orang tua  dan  siapa saja yang peduli  pada bahaya narkoba  untuk  memberikan  waktu dan tenaga  serta  dukungan  secara finansial  terhadap gerakan pemberantasan  narkoba.”Sebagai  remaja  saya  prihatin dengan  jatuhnya  korban  dari kalangan remaja. Sebaiknya  kita tidak saling menyalahkan. Tapi kami minta  agar semua  pihak mau mengembalikan Indonesia  bebas narkoba” ujar siswa Kelas XI Pedalangan kelahiran Yogyakarta 20 Maret 1995 ini.
Menurutnya, tawaran narkoba itu  kapan saja dan dimana saja bisa merusak  masa depan. Karena itu kaum remaja  harus  semakin cerdas membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang boleh dilakukan dan mana yang tak boleh dilakukan. Ia juga berharap  agar orang tua  harus bisa mengawas  anak-anaknya, jangan  biarkan  anak-anak kehilangan kasih sayang  dan perhatian. Anak-anak  butuh perhatian, bukan  kelimpahan harta belaka.
Sedangkan Ketua  KSPAN SMKN 3 Sukowati yang juga Wakil Ketua Osis  I Kadek Prawira Nugraha mengatakan penyalahgunaan  narkoba  sebagai akibat  tersumbatnya informasi. Misalnya  banyak  sekolah   yang  tidak menyosialisasikan betapa berbahayanya  narkoba dan seks  bebas itu. Selain itu, banyak orang tua  di rumah  juga  tidak memberikan contoh hidup yang baik. Menurutnya kalau  bapa misalnya  mabuk-mabukan, anak-anaknya pasti ikut. Jadi  orang tua  harus memberi teladan yang baik kepada anak-anaknya, bukan sebaliknya memberi pengaruh  yang tidak positif.
Remaja kelahiran Denpasar 16 Pebruari 1995 ini mengatakan kalau ada  remaja yang mengatakan sulit untuk  tidak  merokok atau minuman keras, itu alasan yang dibuat-buat. Kalau  ada yang mengatakan sulit melepaskan diri dari narkoba, itu juga  alasan pembenaran. Sebab kalau ada  kemauan pasti  ada jalan. Semua  yang buruk  bisa dijauhkan  asal ada kemauan. Untuk  menjaga agar jangan jatuh kedalam perbuatan yang negatif  maka  selalulah  melakukan kegiatan-kegiatan  yang positif  seperti  Osis, Pencinta Alam, Kelompok Seni,Olahraga dan lain-lain yang menguntungkan. Menurut Nugraha dengan banyak  kesibukan, selain  mendapat  banyak pengalaman, juga  teman  yang tentu saja  berpengaruh baik. Ia minta agar para remaja  pandai-pandai  mencari teman  karena teman buruk akan mberpengaruh buruk, teman  baik  akan berpengaruh baik.*/gus

 Masalah Narkoba 
Jadikan  Materi Dalam Pendidikan Koperasi
 
Kalangan pegiat  koperasi kredit mengaku kurang mendapatkan informasi  tentang  bahaya narkoba  serta  cara penanggulangannya. Sedangkan  kenyataannya narkoba kini menjadi ancaman bagi  kaum remaja, termasuk  putra-putri dari  para anggota  koperasi kredit. Orang tua  sangat berperan dalam mengarahkan  anak-anak  untuk  memahami  bahaya  narkoba. Sayangnya, mereka sendiri  sangat  miskin dengan informasi tentang  bahaya narkoba.
Hasil  survey  yang  dilakukan oleh  Tabloid Mentik  terhadap  20  anggota Kopdit  di lingkungan  Puskopdit  Bali Artha Guna  awal Mei 2012 lalu  memperlihatkan  18  dari 20  orang  yang ditanya  tentang  sejauh mana pemahaman mereka terhadap bahaya narkoba menjawab  tidak tahu. Hanya  2 orang  yang bisa menjelaskan  betapa dasyatnya  bahaya narkoba  bagi generasi muda kita, termasuk  putra-putri  dari para anggota  koperasi. Jika benar  banyak  orang tua  yang  belum paham  bahaya narkoba  serta cara bagaimana  mengawasi anak-anak  dari bahaya narkoba  maka  gerakan koperasi  dapat memanfaatkan kesempatan  pendidikan dasar  koperasi  untuk  menjelaskan  juga tentang  bahaya narkoba dan cara  menanggulanginya.
Menurut Manajer  Kopdit Trtitunggal  Tuka  H. I Nyoman Rikus, dirinya  sangat tidak memahami  apa itu narkoba. Tetapi pemberitaan di media  cetak maupun media elektronik  baik televisi  maupun  radio  sungguh membuat  masyarakat  sangat resah  karena peredaran narkoba di Bali sudah merambah  sampai  kepada anak-anak. Korban  yang rata-rata orang muda  dan manusia usia produktif  berjatuhan. Narkoba  kini menjadi  pembunuh  berdarah dingin  yang  bisa  membuat Bali  kehilangan  generasi  muda  yang diharapkan  sebagai penerus  masa depan bangsa tercinta ini. Maka para orang tua,khususnya  anggota  koperasi  di lingkup Puskopdit  Bali Artha Guna  tentu  tidak mau  kehilangan putra-putrinya  karena narkoba.
Untuk itu, menurut H.I Nyoman Rikus, adalah sangat  efektif  jika  para orang tua  mendapatkan penjelasan  seputar  bahaya narkoba  dan bagaimana cara penanggulangan. Orang tua dibekali dengan pengetahuan  bagaimana gejala-gejala  seorang  anak  sudah  mengonsumsi  narkoba  bahkan sudah menjadi pecandu. Orang tua juga dibekali dengan  pengetahuan, jika anak-anak mereka  kecanduan narkoba, apa yang harus mereka lakukan  dan kemana mereka  harus membawa anak-anak mereka  untuk proses rehabilitasi.”Saya kira hal-hal ini  sangat penting diketahui orang tua  karena akan sangat membantu mereka dalammengawasi anak-anak mereka”, ujarnya.
Dikatakannya, Kopdit Tritunggal  akan merencanakan supaya  setiap  ada pendidikan  dasar koperasi bagi anggota, dihadirkan juga  nara sumber  yang memang  paham  dengan  masalah-masalah  narkoba. Dengan  demikian  koperasi berpartisipasi  dalam  turut serta menanggulangi masalah-masalah  sosial kemasyarakatan termasuk  penanggulangan bahaya narkoba.”Saya  merasa  sangat  urgen  para orang tua  memiliki pengetahuan  tentang bahaya  narkoba dan cara menanggulangi.Koperasi  akan memfasilitasinya”, ujar mahasiswa STIE Triatma Mulya ini.***AGUST G THURU