Senin, 09 April 2012


Sebanyak 430 dari 4.078 anggota Koperasi Kredit Sinar Harapan kumpul di Malapedho untuk mengikuti Rapat Anggota Tahunan (RAT), 3 Maret 2012 lalu.  RAT yang dilaksanakan di Aula Kopdit Sinar Harapan Malapedho juga dihadiri Staf Ahli Bupati Ngada Drs. Frans Wogha mewakili Bupati Ngada,  Kadis Koperasi UKM dan Perindag, Moi Nitu Anastasia, Wakil Ketua Puskopdit Flores Mandiri Philipus Lusi,  Para Fungsionaris KSP/Kopdit Naru Sawu Jerebu’u dan para anggota Kopdit Sinar Harapan.
Dalam sambutannya, Ketua Kopdit Sinar Harapan Malapeho Yoseph Madha menegaskan, tugas koperasi kian berat.  Tugas berat ini yang harus dilaksanakan baik oleh para pengambil kebijakan maupun manajemen Koperasi pada umumnya dan koperasi kredit khusus dewasa ini adalah mengaplikasikan nilai-nilai dan prinsip-prinsip pengelolaan Koperasi sehingga mampu membendung hempasan gelombang persaingan ekonomi global dan pasar bebas.
Lebih lanjut Yoseph Madha mengatakan nilai-nilai koperasi dimaksud adalah nilai swadaya, swa tanggungjawab, nilai demokrasi kebersamaan serta nilai keadilan dan kesetiakawanan. Sebagai insan koperasi kredit, kata dia ada  tiga pilar kopdit yaitu swadaya, pendidikan dan solidaritas. Dijelaskannya, bahwa keberlanjutan sebuah Kopdit tidak sekedar berbadan hukum, ada struktur perangkat organisasi yang rapih, kantor yang anggun dan representatif  tetapi harus dapat dibuktikan seperti apa aplikasi/penerapan nilai-nilai dan prinsip-prinsip pengelolaan yang erat kaitannya dengan keberlanjutan koperasi pada umumnya dan Kopdit Sinar Harapan khususnya.
Bagi Kopdit Sinar Harapan, papar Yoesph Madha, keberlanjutan merupakan “kata kunci” yang senantiasa didengungkan, didiskusikan, dibahas, disoroti oleh para fungsionaris setiap kali pertemuan. Hal ini dirasa penting agar mendukung motto Kopdit Sinar Harapan yakni “Tidak Ingin Mati Suri Kedua”. Dengan tema “SATU KATA DAN PERBUATAN KOPDIT SINAR HARAPAN BERKELANJUTAN” (One word And Action Sustainable Of Sinar Harapan Credit Union). Tema ini sebagai pengembangan tema RAT tahun buku 2010 yakni “Tata Kelola Sehat Kopdit  Sinar Harapan Berkelanjutan”. Di akhir sambutannya, Yoseph Madha mengajak para peserta RAT untuk memaknai moment yang syarat makna yaitu makna pertangung jawaban, makna pengesahan rencana kerja,  makna pembelajaran demokrasi dan makna silahturahmi.
Wakil Ketua Puskopdit Flores Mandiri, Philipus Lusi mengajak seluruh anggota Kopdit agar memahami empat tugas pokok sebagai pelaku koperasi kredit  yaitu; aspek pertanggungjawaban dan evaluasi, aspek perencanaan (program dan anggara), aspek pengembangan dan berkelanjutan (visi dan misi) dan aspek keempat yaitu komitmen perubahan (punya peta jalan) menuju visi. Dikatakan bahwa fokus penting yang menjadi perhatian serius dalam gerakan koperasi kredit yakni Tata Kelola  Lembaga (SOM-SOP) dan pendidikan menuju kecerdasan financial anggota dan keluarga untuk menjawab kepercayaan yang sudah sedemikian besar pada Kopdit Sinar Harapan. Daya tahan, daya saing dan keberlanjutan koperasi kredit sangat ditentukan oleh peran aktif dari semua komponen baik fungsionaris maupun anggota yang diikuti dengan kesiapan profesionalisme SDM Kopdit.
Menjadi pertanyaan, sambung Lusi, apakah pilihan koperasi kredit kita memiliki kemampuan daya saing kopdit yang handal atau manja?  Pada akhir sambutannya menyampaikan apresiasi dan penghargaan untuk kopdit Sinar Harapan karena di tingkat Gerakan Koperasi Kredit di wilayah Puskopdit Flores Mandiri, terus menjaga eksistensinya sebagai salah satu kopdit yang termasuk 5 besar (urutan 4 dengan anggota 4.078 dan asset + Rp.460 milliard (hampir 0,5 T).
Sementara itu  Bupati Ngada dalam sambutannya yang disampaikan oleh Staf Ahli Bupati Ngada Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Drs. Fransiskus Wogha, mengatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Ngada, telah berkomitmen untuk menjadikan Ngada sebagai Kabupaten Koperasi. Tentu, untuk mewujudkan komitmen tersebut, dibutuhkan perhatian yang serius dari semua komponen terkait. Karena tekad dan komitmen  ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk memperbaiki derajat kehidupan seluruh masyarakat Ngada.
Mengingat organisasi koperasi penuh dengan aspek-aspek manusia selain aspek ekonomi dan manajemen bisnis, maka untuk lebih mengoptimalkan fungsi koperasi diperlukan pendekatan yang mempertimbangkan wawasan yang komprehensif dari berbagai disiplin ilmu yaitu ekonomi, bisnis, sosial budaya, psikologi, dan hukum.  Selama ini diakui bahwa pada umumnya koperasi dikembangkan dari pendekatan ekonomi dan manajemen saja. Koperasi Sinar Harapan  juga adalah mitra pemerintah. “Mari kita jalan bersama, saling mendukung dan saling memperkuat,” katanya. Bupati Marianus mengajak untuk menyukseskan program-program pemerintah lima tahun ke depan, karena dengan bersama-sama  pasti bisa membangun Ngada menuju Ngada yang maju, unggul, mandiri dan sejahtera. *Eman Dj

Selasa, 27 Maret 2012

· RAT XIII Puskopdit Flores Mandiri Membangun Komitmen Menuju Kemandirian dan Keberlanjutan


Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Flores Mandiri  menggelar Rapat Anggota Tahunan  (RAT)  selama dua hari  Sabtu  25 Pebruari 2012  dan Minggu  26 Pebruari  2012. Selama dua hari  tersebut  RAT  diisi  dengan laporan pertanggungjawaban pengurus dan laporan pengawas  serta  masukan-masukan melalui  sambutan-sambutan  dari pengurus Puskopdit dan pejabat  pemerintah.
Sabtu 25 Pebruari  2012  acara pembukaan RAT XIII. Ketua Panitia RAT Drs. Mikhael H. Jawa yang juga adalah Manajer Puskopdit Flores Mandiri melaporkan  bahwa  tema  RAT XIII Puskopdit Flores Mandiri  tahun buku 2011 adalah ‘Membangun Komitmen Perubahan Menuju Kemandirian dan Keberlanjutan Pengelolaan Koperasi Kredit’.Tema ini bisa menjadi inspirasi dalam proses pembenahan tata kelola organisasi dan usaha koperasi kredit dalam  kurun waktu lima tahun ke depan.Dengan tema tersebut  diharapkan segenap fungsionaris kopdit  senantiasa mengedepankan koperasi kredit dalam perspektif sebagai organisasi  pembelajaran untuk belajar dan terus belajar dari praktek yang terbaik.
Sedangkan Ketua Puskopdit  Flores Mandiri Petrus Lengi,S.Pd dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Bupati Ende, Bupati Ngada dan Bupati Nagekeo, Ketua Inkopdit  atau pejabat yang mewakili dan segenap  undangan yang berkenan mengikuti rangkaian kegiatan RAT Puskopdit Flores Mandiri. Ia mengatakan sesuai amanat  Anggaran Dasar Puskopdit  Bab VI  pasal 13 mengatakan bahwa RAT merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dan karena itu pasal 14  Anggaran Dasar tersebut menyatakan pengurus harus mempertanggungjawabkan pengelolaan organisasi dan usaha Puskopdit selama setahun kepada anggotanya. RAT  dijadikan  juga sebagai momen saling koreksi, tukar pendapat, yang kurang dilengkapi, yang keliru dibenahi bersama. Semangat dan kebersamaan melalui RAT ini bisa dijadikan sebagai momen silaturahmi dan temu kangen antara Puskopdit dan primer, Puskopdit  dengan Inkopdit, Pemerintah dan Koperasi dan ataupun antar anggota yang hadir dalam  dalam RAT tersebut.
Menurut Lengi, sejak awal kiprahnya, lembaga ini mempunyai fokus perhatian terhadap pemberdayaan masyarakat dengan berbasiskan jati diri koperasi kredit yaitu Swadaya,  Pendidikan dan Solidaritas sebagai Trilogi gerakan. Jati diri dimaksud telah merasuk begitu pesat hingga ke sumsum kehidupan terutama anggota kopdit yang rata-rata kumpulan orang-orang lemah, orang-orang susah dan terpinggirkan. Mereka berusaha dengan susah payah untuk memperbaiki nasib mereka sedikit demi sedikit yang kurang beruntung menjadi pelan-pelan beruntung, yang dulu belum bisa sekarang menjadi bisa. Swadaya menabung bersama bukan hanya jadi kumpulan orang-orang tetapi juga berubah  menjadi kumpulan orang yang menghasilkan modal, bahkan modal tersebut kian lama kian besar jumlahnya.
Dikatakan Lengi, saat ini Puskopdit Flores Mandiri beranggotakan 47 kopdit primer dengan rincian 19 kopdit sebagai anggota, 13 kopdit sebagai calon anggota dan 15 kopdit sebagai kelompok binaan dan anggota individu seluruhnya berjumlah  81.992 orang dengan aset seluruhnya Rp465 miliar lebih atau bahasa kerennya  ½ triliun, simpanan saham anggota sebesar Rp374 miliar, pinjaman beredar Rp237,9 miliar sementara dukungan dari pemerintah dalam bentuk pinjaman bergulir sebesar Rp1,2 miliar. Angka-angka ini memang kecil jika dibandingkan dengan lembaga keuangan formal lainnya namun di balik angka-angka dimaksud mau mencerminkan kemandirian, keswadayaan masyarakat setempat untuk membangun kemartabatan dirinya dalam semangat kebersamaan dan solidaritas.
Lebih lanjut Lengi paparkan, kopdit-kopdit favorit di tiga Kabupaten seperti  Kopdit Sangosai di Kabupaten Ngada beranggotakan 14.395 orang, penambahan anggota baru tahun buku 2011 sebanyak 2.780 orang dan aset sebesar Rp 149 miliar lebih, Kopdit Boawae di Kabupaten Nagekeo beranggotakan 10.131 orang, penambahan anggota baru tahun buku 2011 sebanyak 1.398 orang dan aset Rp 51 miliard lebih, Kopdit Bahtera  di Kabupaten Ende berangotakan 5.102 orang dengan aset sebesar Rp 21.6 miliard, dan masih banyak kopdit besar lainya menunjukkan kemajuan  yang besar dan signifikan. Hal inilah yang mendorong  RAT XIII  Puskopdit Flores Mandiri memilih tema ”Membangun Komitmen Perubahan Menuju Kemandirian Dan Keberlanjutan Pengelolaan Koperasi Kredit”.
Tema ini telah digumuli sejak  Rapat Kerja Pengurus  dan Manajer tanggal 17-18 Desember 2011 yang menginspirasi  untuk membangun kemandirian dalam konteks keswadaayan mental, tata kelola organisasi dan usaha yang sehat dan aman.”Kita terus berupaya meningkatkan kualitas anggota sebagai pemilik koperasi kredit dan lebih dari itu meningkatkan kualitas dapur pelayanan”, ujarnya. Dikatakannya pengembangan sumber daya manusia berkoperasi telah mendapat dukungan dari banyak pihak. Gerakan koperasi kredit yang berpayung dibawah Puskopdit Flores Mandiri telah  mendapatkan dukungan dana “capacity building” dari Pemkab Ngada sebesar Rp260 juta dengan rincian tahun 2006 sebesar Rp100 juta, tahun 2007 sebesar Rp75 juta, tahun 2009 sebesar Rp Rp50 juta dan tahun 2011 sebesar Rp35 juta.”Untuk itu atas nama gerakan ini kami haturkan terima kasih”, ujar Lengi disambut tepuk tangan peserta rapat.
Dikatakannya lebih lanjut, aspek pendidikan kian hari kian penting. Dimensi pendidikan bagaikan lilin penerang jalan gerakan koperasi kredit menuju perubahan. “Kita bersyukur Puskopdit Flores Mandiri mengembangkan sayapnya menjadi pusat pendidikan dan pelatihan dengan tenaga-tenaga terlatih dan fasilitas yang cukup memadai”, ujar Lengi.Selama tahun 2011, Puskopdit Flores Mandiri telah melakukan pelatihan dan lokakarya sebanyak 15 kali,  pengembangan personil sebanyak 10 kali, pendampingan  untuk 27 kopdit primer, pendidikan dasar untuk 3 kopdit primer dan  audit untuk 10 kopdit primer.”Tentang audit ini kita anggap sangat  penting dan strategis. Kita tidak mencurigai kejujuran pengelolaan namun hendaknya dikawal dan dikontrol secara proporsional melalui audit baik internal maupun eksternal. Agar kopdit kita dipercaya masyarakat, ke depan kita butuhkan auditor yang profesional, berkualitas dan terpercaya”, ujarnya.
Pengurus Inkopdit  Peter Lawadiharja dalam sambutannya  menegaskan CU yang pertama di Indonesia lahir di NTT di Watublapi namanya Woga Lepo, lebih dulu 1 tahun  dari  yang ada di Jawa Barat yakni CU Kamuning, CU Swapada di Jakarta, CU Cinta Mulia di Sumut. Keberhasilan CU itu karena keberhasilan kita menerapkan manajemen keuangan, jadi keberhasilan Manajemen keuangan berdampak pada tantangan baru yang muncul karena keberhasilan tersebut. Ia menegaskan tata kelola yang baik dalam koperasi menjadi syarat keberhasilan manajemen aktiva. Diantaranya penerapan manajemen resiko menjadi sangat menentukan keberhasilan dalam mengelola manajemen aktiva. Aturan seperti SOP, SOM dan segala yang berhubungan dengan operasional menjadi syarat mutlak bagi sebuah koperasi. *KOS

Selasa, 14 Februari 2012

Sinar Harapan Buka TP Baru dengan Pelayanan Online



Kopdit Sinar Harapan mengalami perkembangan semakin pesat pada tahun 2000. Pada tahun ini bersama empat koperasi lainnnya di Ngada dipilih oleh Inkopdit melalui Kopdit BK3D Ende-Ngada menjadi koperasi model tahun 2000. Predikat menjadi koperasi model harus ditunjang dengan peningkatan mutu SDM baik untuk pengurus maupun anggota.
Karena itu bersama para pengurus dari kopdit model lainnya dibimbing dalam pelatihan dengan system modul yang dikenal dengan modul 1 sampai 4. Selain itu ketua dan manajer diundang untuk mengikuti lokakarya Kopdit Model Tingkat Nasional dan melakukan studi banding di sejumlah Kopdit Model di Denpasar, Sawiran/Malang, Probolinggo/Jatim dan Kopdit Gunung Kidul di DIY. Dampak dari kopdit model membawa perubahan dalam organisasi, manajemen, kebijakan pencapaian usaha dan aktualisasi nilai-nilai.
Menyandang kopdit model memang predikat yang membanggakan, namun mengandung konsekuensi yang tidak kecil. Karena itu, kopdit ini harus terus meningkatkan kualitas pelayanan dan pengelolaan yang profesional. Sebagai kopdit model kata Yohanes Soba berarti, “kita harus merubah diri dan terus berinovasi mengikuti perkembangan perkoperasian termasuk meningkatkan kemampuan SDM melalui pendidikan latihan. Ini wajib dilakukan di kopdit dan tidak ada tawar-menawar. Sementara mengikuti peerubahan dan kebijakan dari tingkat nasional hingga daerah terhadap hal-hal yang berkaitan dengan perkoperasian.

Tahun 2004, koperasi ini menyabet penghargaan sebagai salah satu kopdit berprestasi tingkat nasional, juara I Kopdit berprestasi tingkat Propinsi NTT dan Juara I Kopdit berprestasi tingkat Kabupaten Ngada. Usaha meningkatkan mutu SDM bagi pengurus  dan manajemen terus dilakukan sebagai konsekwensi meningkatkan pelayanan. Manajer bersama rekan-rekan dari kopdit lain mengadakan stuba  ke beberapa kopdit di Kalimantan Barat, Sumatra Utara dan Sumatra Selatan. Tanggal 26 Juli 2005 Ketua koperasi juga diundang Northen California Global University bekerja sama dengan Institut  Manajemen Global Indonesia untuk diberikan pengukuhan internasional dalam bentuk wisuda sehinga mendapat gelar profesi karena berjasa dalam mengabdikan diri kepada masyarakat. “Waktu itu saya diundang untuk diwisuda dan mendapat gelar BSC bidang manajemen bisnis dan pelayanan public,” kata Yoseph.

Predikat ini tidak asal diberikan tetapi melalui perjuangan dan karena ada kemauan dan kemampuan bekerja, kemauan dan kemampuan membenarh, dan merubah pola olah. Predikat ini jelas suatu kebanggaan sekaligus tantangan. Menurut Yoseph, bangga karena dinilai lebih baik dari yang lain tetapi tantangan apakah kami tetap berpretasi dan menjadi model bagi yang lain? “Kami tetap memegang jati diri koperasi yang merupakan falsafah koperasi kredit yaitu pendidikan, swadaya dan solidaritas. Semuanya itu diaktualisasikan dalam kegiatan operasional manajemen. Predikat ini juga menjadi suatu yang meneguhkan semangat juang sehingga sinar itu memberi harapan dan ditopang terus sehingga tidak sampai redup. Bagi Yoseph yang kini merasa enjoy dengan bidang yang digelutinya ini, perjuangan selalau ada tantangan, apalagi itu untuk kepentingan bersama. Dalam koperasi tantangan utama adalah bagaimana mengembangkan sikap kejujuran dan kepercayaan bagi para anggota, baik anggota dengan pengurus dan manajemen maupun anggota dengan anggota. Kepercayaan anggota kepada kopdit terletak pada figur pengurus.

Kini menjelang usia 30 tahun Kopdit Sinar Harapan terus berbenah dan meningkatkan pelayanan secara optimal kepada anggota. Sistem pelayanan online di kantornya juga dilakukan untuk mempercapat pelayanan.Untuk melayani anggota yang sudah mencapai ribuan, kini Kopdit Sinar Harapan membuka dua Tempat Pelayanan (TP). Selain di Kantor Pusatnya di Malapeho, pelayanan juga dilakukan di Kota Kecamatan Aimere, dan di Kecamatan Jerebu’u, sehingga memudahkan para anggota. Pelayanan di TP Aimere dan sekitarnya dipusatkan di kantor TP, tidak jauh dari Kantor Camat, persis di lorong PLN Aimere. Pelayanan di TP ini, kata Manajer Kopdit Sinar Harapan, Yohanes Soba, sudah berlangsung selama empat tahun, sedangkan di Jerebu’u sudah berlangsung selama dua tahun.

Dengan pelayanan di beberapa TP ini memudahkan pelayanan kepada anggota sehingga tidak harus datang ke Malapeho, baik dari Aimere maupun dari Jerebu’u. Dikemukakan Yohanes, dalam sehari pihaknya melayani lebih dari 20 orang anggota, baik yang akan melakukan pinjaman, menyicil maupun untuk keperluan menabung. Sebagian besar pelayanan pinjaman di kopdit ini, kata pria kelahiran Maghilewa 17 Agustus 1960 ini, untuk jenis pinjaman biasa, pinjaman khusus dan pinjaman untuk biaya pendidikan. Pinjaman khusus diberikan kepada PNS dengan menjamin SK dan cicilan langung memotong gaji. Sedangkan kepada petani dan nelayan yang menjadi anggota terbesar di kopdit ini, kata Yohanes yang juga alumnus SMEA (kini SMK) PGRI Bajawa ini, diberikan jangka waktu pengembalian pinjaman hingga 75 bulan dengan suku bunga 1,4 persen menetap atau 2 persen menurun.

Menurut Yohanes animo masyarakat (anggota) untuk memanfaat koperasi dalam mengatasi kesulitan mereka cukup tinggi, dengan rata-rata plafon pinjaman Rp 65 juta untuk usaha dan Rp 50 juta untuk pendidikan.Diungkapkan Yohanes, dulu sebagian besar anggota adalah petani, sekarang  banyak juga yang PNS dan lainnya. Memang semula ada keraguan yang PNS masuk koperasi ini, mungkin karena jumlah anggota yang sebagian besar petani dengan penghasilan pas-pasan. Tetapi dengan manajemen dan pelayanan yang baik, kopdit ini memberi warna lain yang akan terus membangun kepercayaan masyarakat dan anggota sehingga menjadi kopdit yang kuat. (Emanuel Djomba).
Kopdit  Sinar Harapan Malapedho Bersinar Setelah Redup


“Sinar Harapan” Sinar dari Malapedho, Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada itu,  kini terus  bersinar meski sebelumnya sempat redup. Saat ini, Sinar Harapan memiliki modal sekitar Rp 25 miliar.
Sulit dipercaya modal sebesar itu justru berasal dari masyarakat kecil yang berada di pedesaan.  Tetapi memang dari sanalah uang itu berasal. Dari orang-orang yang kesulitan bahkan tidak punya uang, kini mereka mengumpulkan cukup besar modal. Kesulitan kuangan menjadi kata kunci bagi para pendahulu membidani kelahiran koperasi yang kini beranggotakan sekitar empat ribuan orang itu. Dua puluh Sembilan tahun sudah berlalu sejak KSP Kopdit Sinar Harapan didirikan pada tanggal 1 Januari 1982. Tetapi 29 tahun yang lalu menjadi momentum mengantarkan koperasi ini besar bagi kesejahteraan para anggotanya kini.

Manajer KSP Kopdit Sinar Harapan, Yohanes Soba memang generasi baru di koperasi ini, tetapi ketika bincang-bincang dengan Fokus beberapa waktu lalu  dirinya seperti sudah sangat menyatu dengan perjalanan panjang koperasi yang tanggal 1 Januari 2012 berulang tahun ke-30. Yohanes seperti sedang meniti setiap lika liku perjalanan panjang koperasi ini. Dikatakan, kesulitan uang waktu itu mendorong para perintis mendirikan lembaga keuangan non bank ini.
Misalnya kesulitan membiayai pendidikan anak-anak maupun dalam menjalankan usaha produktif. Ketika itu masyarakat di desa biasanya menjadikan guru-guru sebagai tempat untuk mendapatkan solusi dengan mendapat pinjaman uang, ada juga yang meminjam pada orang yang bukan guru tetapi memiliki uang karena kehidupan mereka sudah mapan. Solusi lain melalui kelompok arisan. Sehingga dengan adanya koperasi bisa membantu masyarakat mengatasi masalah keuangan untuk kebutuhan mereka itu.

Berdirinya KSP Kopdit Sinar Harapan dimotori Clemesn Kolo (Alm), salah seorang guru honor pada SMP Pancakarsa, Malapedho, sekarang SMPN 2 Aimere. Pada awalnya berhimpun 25 orang sebagai anggota koperasi pertama, dengan uang pangkal yang disetor sebesar Rp 500 dan iuran wajib Rp 100. Modal awal yang terkumpul  sebesar Rp 234.000.Setelah dua tahun berjalan, tahun 1984 – 1986 koperasi ini malah redup, tidak bersinar lagi, atau bagi para anggotanya kini, dianggap mati suri.  Selama dua tahun ini boleh dikatakan masa-masa krisis bagi koperasi yang berkantor pusat di balik gunung Inerie atau di pesisir pantai selatan itu.

Namun, sinar itu tidak boleh redup supaya selalu memberi terang dan harapan bagi para anggotanya. Spirit itu yang menyulut semangat Rofinus Raga (Almr) menggalang kembali semangat untuk bangkit dari mati suri pada tahun 1987.  Untuk mengumpulkan kembali anggota yang sudah tercerai-berai memang bukan pekerjaan mudah. Anggota sudah terlanjur tak percaya pada pengurus sebelumnya yang membiarkan koperasi ini nyaris padam nyalanya. Figur Rofinus Raga yang kala itu juga Kepala Desa Inerie rupanya mampu menopang kepercayaan para anggota yang sudah terkulai lemas.

Dengan kepercayaan itu anggota berkumpul kembali dan mulai melakukan rapat-rapat yang digelar dari rumah anggota yang satu ke rumah anggota yang lainnya.  Sesuatu yang terlanjur ambruk awalnya sulit memang untuk merakit kembali, tetapi karena semua memiliki semangat yang sama maka,  kesatuan dan kepercayaan yang nyaris hancur perlahan dapat direkatkan kembali. Apalagi waktu itu untuk mengumpulkan anggota lebih mudah karena semua dari satu desa.

Melalui rapat, semua sepakat mengedepankan nilai kejujuran. Dari sini kepercayaan orang terhadap koperasi ini mulai pulih. Meski ketika mulai kembali koperasi ini tidak punya uang lagi karena pertanggung jawaban pengurus yang tidak jelas. Yang mana waktu itu pengurusnya banyak yang guru, sehingga ketika mereka pindah maka nasib koperasi pun tidak jelas. Dengan semangat baru ini, Sinar Harapan mamasuki babak baru, bangkit dari mati suri. Dalam rapat para anggota menetapkan uang pangkal Rp 1.000 dan wajib Rp 500,- Karena keuangan sebelumnya kosong dan tinggal administrasi saja, praktis awal-awal hanya untuk menyelesaikan hutang sekitar Rp 6 juta, sehingga SHU tidak dibayar.

Ketika mulai berjalan lagi, Rofinus Raga kemudian mengutus beberapa orang anggota yang dianggap mampu untuk mengikuti pendampingan yang diberikan Perwakilan BK3D NTT bagian barat (Sekarang Puskopdit BK3D Ende-Ngada). Dengan pengetahuan yang dimiliki dari pendidikan ini pengurus mulai menata kembali Kopdit Sinar Harapan. Pendidikan dan pendidikan semacam ini mudlak diperlukan, karena pengetahuan dan pemahaman para anggota tentang koperasi masih sangat minim.

Awal tahun 1988 Kopdit Sinar Harapan mengadakan RAT pertama dari kebangkitannya yang kedua. Dalam forum ini, Rofinus Raga (almr) terpilih sebagai ketua dan dan Yoseph Madha menjadi wakil ketua. Menurut Yoseph yang masih menjadi ketua hingga sekarang, waktu itu dirinya menerima dengan berat hati, karena dia beranggapan pengurus mestinya orang yang memiliki pengetahuan perkoperasian cukup sehingga mampu membangun koperasi dengan baik. “Waktu itu pengetahuan dan pemahaman tentang perkoperasian sangat minim, itu yang membuat saya merasa berat menerima tugas sebagai pengurus,” katanya kepada Fokus belum lama ini di Malapedho.

Sejak saat itu Kopdit “Sinar Harapan” terus bersinar. Jumlah anggota terus bertambah dan tidak hanya dalam wilayah Desa Inerie, tetapi mulai menyebar hingga ke desa-desa tetangga. Malah perkembangan kopdit ini meluas hingga ke Borong, Manggarai Timur. Selama empat tahun jumlah anggota di Borong terus bertambah sehingga kemudian menjadi cikal-bakal berdirinya koperasi baru yang kemudian atas persetujuan pengurus berdirilah koperasi Hanura. Kemudian Kopdit Hanura mendapat badan hokum dan menjadi embrio terbentuknya Puskopdit di Manggarai.Tahun 1988, Pemda Ngada memberikan dana bergilir P2LDT sebesar Rp 1.500.000 yang difokuskan untuk perbaikan rumah rakyat. Dana ini dikelola dengan baik sehingga menjadi dana abadi lembaga.

Pada tahun 1999  Yoseph Madha terpilih menjadi Ketua menggantikan Rofinus Raga yang meninggal setahun sebelumnya. Kemudian dengan pola manajemen, maka kepengurusan dirampingkan sehingga hanya unsur penasihat tiga orang, pengurus lima orang, pengawas tiga orang dnb staf manajemen lima orang.Waktu itu sudah sekitar 845 anggota yang tersebar pada sembilan desa di Kecamatan Aimere. Kemudian dibentuklah kelompok-kelompok yang berjumlah 21 kelompok. Kelompok menjadi tempat untuk mengadakan rapat bulanan dan pendidikan secara rutin yang dipimpin oleh ketua kelompok masing-masing. *Eman Jomba

Selasa, 25 Januari 2011

Lodovikus Lenga: Pendekatan Capacity Building Hasilkan Kemandirian Sejati

Pemerintah  telah menunjukkan keseriusannya dalam  membangun  koperasi-koperasi  agar mampu menjadi soko guru ekonomi kerakyatan. Salah satunya dengan  program  bantuan  dana bergulir. Sayangnya, seringkali pendekatan yang diterapkan pemerintah masih pendekatan modal, bukan pendekatan  capacity building.
Demikian dikatakan  Manajer Kopdit  Sangosay Bajawa Ngada  Lodovikus Lenga saat bincang-bincang dengan Picu belum lama ini di Denpasar Bali. Menurutnya, saat ini pemerintah provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)  dan pemerintah kabupaten/kota di seluruh NTT sangat antusias dan  berkomitmen untuk mengembangkan koperasi  dengan  mempertahankan predikat NTT provinsi  koperasi. Demikian juga pemerintah Kabupaten Ngada yang kini dipimpin  duet Bupati Marianus Sae dan Wakil Bupati Paulus Soliwoa terus berkomitmen  untuk mempertahankan predikat Ngada Kabupaten Koperasi. ”Komitmen pemerintah NTT dan Kabupaten Ngada  sudah jelas yakni membangun  koperasi  sebagai soko guru ekonomi kerakyatan. Di Kabupaten Ngada, Bupati Marianus Sae menggulirkan program ’Perak’, pengembangan  ekonomi rakyat, salah satunya melalui pemberdayaan  koperasi pedesaan” ujar Lodo.
Meski demikian, kata Lodo, pemerintah harus merubah strategi pemberdayaan koperasi yang selama ini dilakukan  dan  ternyata  tidak memberi  hasil yang memuaskan. Kata dia, selama ini pendekatan yang dilakukan  adalah pendekatan modal. Artinya pemerintah menggulirkan  modal  bergulir untuk  dipinjam oleh anggota koperasi. Aspek negatifnya, banyak yang meminjam  lalu tak mengembalikan karena tahu  dana itu bantuan pemerintah. Maka tak heran jika terjadi kredit macet  atau modal bergulir itu justru tak bergulir  karena tak ada yang digulirkan.
Yang lebih efektif, menurut Lodo, pemerintah harus menerapkan strategi Capacity Building, membangun kemandirian  masyarakat  untuk bisa mengelola dengan  baik  bantuan  modal dan agar  modal yang ada tidak mubasir. Menurutnya  program dana bergulir  tidak akan memberikan  dampak  apapun pada masyarakat  kalau  mereka  tidak  disiapkan  untuk  menjadi pelaku  ekonomi kerakyatan yang  mandiri. ”Saya yakin melalui pendekatan  capacity building  maka akan lahir pelaku  ekonomi yang memiliki kemandirian sejati” ujarnya.
Lebih lanjut Lodo mengatakan, koperasi adalah  salah satu wadah  dimana berkumpul  banyak orang  untuk bersama-sama membangun solidaritas dan kesetiakawanan sosial. Dengan  kesetiakawanan sosial itu  koperasi ikut serta mengentaskan kemiskinan  dengan membentuk  aset  anggota melalui program sadar tabung  dan memberikan bantuan dana untuk usaha anggota serta  bentuk lainnya yang  bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup ekonomi anggota. Karena itu upaya terus menerus dilakukan untuk semakin membuat masyarakat mengenal koperasi. Promosi  selain melalui pendekatan personal  juga melalui sarana  yang tersedia antara lain media cetak.
Tentang pengalamannya  selama berkiprah di Gerakan Koperasi Kredit Indonesia, Lodo mengatakan, ada banyak suka dan  ada pula  dukanya. Tetapi  ketika seseorang memutuskan untuk  tekun dalam gerakan koperasi maka m konsekwensinya  adalah bertanggung jawab atas  upaya pemberdayaan  masyarakat miskin dan bertanggung jawab  untuk mewujudkan  visi kopdit (Sangosay) yakni menjadi lembaga keuangan yang aman, terpercaya dan berkelanjutan.
Berkarya dalam gerakan koperasi di tengah masyarakat yang masih terikat dengan pola hidup komsuptif memang bukan pekerjaan  mudah. Lodo mengakui, betapa berat mengubah pandangan  atau image masyarakat yang negatif terhadap koperasi. Ia juga mengatakan  tidak  mudah  mengubah perilaku masyarakat  yang cenderung konsumptif  menjadi produktif dan  bagaimana  membentuk kebiasaan  menabung  di tengah gaya hidup masyarakat yang boros dan tak terarah.
Bagaimana  sekarang? Lodo mengatakan masyarakat  sudah mulai ’melek koperasi’. Buktinya, Kopdit Sangosay yang pada masa awal hanya beranggotakan  beberapa puluh  guru sekolah dasar, kini telah berkembang  menjadi koperasi besar dengan anggota  mencapai 12 ribu orang dengan kekayaan  sudah  lebih dari 100 miliar. Ternyata, untuk bisa berkembang, jangan berhenti belajar dari koperasi lainnya  baik di dalam maupun di luar negeri. Maka tak heran jika Lodo  senantiasa  hadir dalam berbagai kegiatan  yang berkaitan dengan koperasi  baik yang dilaksanakan  di dalam negeri maupun di luar negeri antara lain ke Thailand dan bangladesh.
Dengan jumlah anggota yang hampir 12 ribu orang dan kekayaan di atas 100 miliar, apakah  sudah  puas? Lodo mengatakan masyarakat masih perlu diberikan pemahaman dan motivasi  tentang bagaimana menjadi anggota koperasi yang baik. Masyarakat perlu disadarkan  bahwa  miskin bukan kodrat  dan bahwa kopdit bisa memfasilitasi  mereka yang miskin untuk  kaya  rahmat dan hidup jauh lebih baik dan lebih sempurna. Untuk itu  gerakan  dari koperasi  adalah  tiada henti  meningkatkan kesadaran  dan semangat  masyarakat  untuk menabung khususnya di koperasi.
Kopdit Sangosay sendiri berdiri pada  28 Mei 1983  dan saat ini dikelola oleh pengurus yang diketuai Yoseph Dopo, wakil ketua R. Rinu dan M. Mara Owa, sekretaris  Lipus Lusi, wakil sekretaris Anton Repu, bendahara Sius Angi, wakil bendahara drg Marta Lamanepa  dan  anggota  Y.Ceme, P.Lobo, M.Meo dan N.Neka. Sedangkan  pengawas diketuai  Suitbertus Adja, sekretaris Wenseslaus Naru, anggota Erna Mole, Sius Toda dan Herdin Ndiwa. Kopdit Sangosay mempekerjakan  40  karyawan. Agust GT

Inkopdit Gelar Lokakarya Pengembangan CU Bagi Masyarakat Keci


Sejumlah praktisi Gerakan Koperasi Kredit Indonesia dari Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Maluku berkumpul di Rumah Khalwat Tegaljaya Minggu 9 Januari hingga Rabu  12 Januari 2011. Mereka  hadir untuk sebuah lokakarya bertajuk ”Pengembangan  CU bagi masyarakat kecil” yang  dilaksanakan  atas kerjasama Inkopdit dan Ford Foundation.
Hadir dalam acara pembukaan  Senin (10/1) pagi antara lain Pengurus Inkopdit yang diwakili anggota pengurus Frans Emanuel Supriyanto, Manajer Inkopdit Abat Elias,SE, penanggungjawab program Ford Foundation William Smith dan Ade Aryani, pengurus CU Lantang Tipo Puskopdit BKCU Kalimantan Fransiskus  Kadarusno,Nyonya Prita dari  Micra,para Ketua dan Manajer Puskopdit serta praktisi koperasi  dari NTT dan Maluku.
Lokakarya dibuka oleh Anggota Pengurus Inkopdit Frans Emanuel Supriyanto, didampini  Manajer Inkopdit Abat Elias dan penanggung jawab program Ford Foundation Willam Smith. Usai pembukaan  dilanjutkan dengan  presentase Ford Foundation oleh William Smith. Dalam kesempatan itu Smith mengharapkan  ada kerjasama antara koperasi kredit dengan Ford Foundation khususnya dalam upaya pengembangan  koperasi bagi masyarakat kecil.
General Manager CUCO Indonesia Abat Elias,SE mempresentasikan Cuco Indonesia. Yang dikemukakan oleh Abat Elias adalah  harapan agar  CU membangun kerja sama dengan lembaga-lembaga lain  dan CUCO Indonesia akan memberikan dukungan. Abat juga menyampaikan  model-model kerja sama yang pernah digunakan dalam upaya penguatan kelembagaan dan pemberdayaan  masyarakat kecil.
Para peserta lokakarya juga diperkaya dengan shering pengalaman Fransiskus  Kadarusno dari CU Lantang Tipo Kalimantan  yang telah membangun akses pelayanan  kepada para anggotanya di pedesaan terutama yang berpendapatan rendah. Yang  dipresentasikan oleh Kadarusno antara lain  latar belakang  praktek pemberdayaan  ekonom kelas menengah ke bawah lewat CU Lantang Tipo, proses pembentukan kelompok, Konsep kelompok mandiri atau self-help group, prosedur pelayanan, perkembangan usaha, perkembangan anggota, tantangan bagi lembaga CU, tantangan dan hambatan bagi angota serta hambatan pengembangan CUMI. Para peserta lokakarya juga diperkaya dengan  shering Nyonya Prita dari Micra yang menyampaikan profil  MICRA, gambaran  singkat  microfinance di Indonesia, permasalahan-permasalahan yang dihadapi CU di Indonesia dan alternatif solusinya.
Selasa (11/1) pagi para peserta lokakarya diajak untuk mengunjungi Kopdit Swastiastu  di Kota Singaraja, Ibukota Kabupaten Buleleng yang terletak di Bali Utara. Kopdit Swastiastu  adalah satu dari 21  kopdit/ksp anggota Puskopdit Bali Artha Guna yang mengalami perkembangan positif baik dari aspek keanggotaannya  maupun  aspek keuangannya. Anggota Kopdit Swastiastu juga tersebar  di wilayah pedesaan  dan  mayoritas  berpendapatan  rendah. Sedangkan  sore harinya para peserta  bertukar pengalaman  tentang bagaimana seharusnya  bentuk atau model kerja sama  yang ideal antara CU dan lembaga-lembaga lainnya.
Rabu (12/1)  para peserta  merumuskan  sejumlah kesepakatan  kerjasama dengan  Ford Foundation. Sedangkan Ford Foundation  mempresentasekan  cara membuat proposal, prosedur pengajuan proposal, penjadwalan dan  sistem pelaporan. Lokakarya pun berakhir dan ditutup  oleh Anggota Pengurus Inkopdit Frans Emanuel Supriyanto.Agust GT

Senin, 24 Januari 2011

UNTUKMU....SINAR PEMBERI HARAPAN



Blog ini dibuat karena kecintaan saya pada desa kelahiran saya Desa Inerie, Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Di desa ini, sekelompok orang pada suatu jaman menelorkan ide untuk mendirikan sebuah koperasi credit dengan nama SINAR HARAPAN. Tokoh yang saya kagumi, seorang dengan tubuh cacat, tetapi hidup dengan cara berpikir yang dinamis, maju, berpandangan luas, bernama ROFINUS RAGA, telah membawa koperasi ini menjadi seperti sekarang ini.
Benar apa kata orang, untuk menjadi pohon yang besar, harus ada yang menabur benih sebesar biji sesawi. Benih itu ditaburkan oleh orang-orang seperti Klemens Kolo almarhum dan sejumlah orang serta bapakku, pamanku, kakaku, saudaraku, teman diskusiku ROFINUS RAGA. Mantan guruku di SDK Inerie, mantan kepala desa untuk puluhan atahun, yang benar-benar berpikiran maju, elastis, dinamis. Bagi dia aku ingin mempersembahkan bloger ini, juga untuk dia yang kukagumi, bloger ini dipersembahkan kepada masyarakat desa Inerie dan mereka yang menjadi anggota Kopdit Sinar Harapan.
Desa Inerie, sebuah desa di pantai selatan Kabupaten Ngada, di kaki gunung Inerie, adalah desa dengan penuh pesona. Meskipun aku jauh...jauh dibatasi oleh gunung dan laut, tetapi Desa Inerie adalah rahim ibuku, tempat ayahku menanamkan benih kepriaannya kedalam rahim ibuku dan jadilah aku. Cintaku tak pernah pudar. Di desa ini SINAR HARAPAN ada bagaikan bintang yang terus bersinar... dan ribuan orang telah merasakannya. Terima kasih para pencetus, terima kasih pada penggagas, terimakasih para pengelola, kalian telah menciptakan sejarah dan orang-orangku di tanah ini, punya satu harapan, hidup lebih baik dari kemarin, menuju masa depan lebih pasti daripada dulu.
AGUST G THURU
Dia 'Keka' Kecintaan
Jl. Hayam Wuruk Gang 181 No 4 Denpasar
HP;081337769252